TESTIMONI
Taman saya terlihat rapih dan indah. Saya PUAS dengan kerja tamanku.com

Ibu Emi, Gading Serpong Tangerang

Responnya cepat setelah saya telpon, langsung disurvey tempat, harganya terjangkau dibandingkan beberapa taman yang lain. pengerjaan juga cepat & rapih. SUKSES tamanku.com

Ibu Like, Pondok Indah, Jakarta

"Cepat, murah dan hasilnya memuaskan, saya merasa puas dengan kinerja dari tamanku.com"

Rudi, Jakarta Barat

Pokonya kantor saya tidak akan kemana-mana lagi, kalau mau membuat taman ya langsung hubungi tamanku.com, abis responnya cepat dan harga terjangkau sih.

Bapak Ali, Mampang

Bagus, respon cepat. Itu kesan yang saya rasakan dari tamanku.com..Terima kasih taman-nya y....tamanku.com, Good luck!!

Bapak Tony, Bumi Serpong Damai
Statistik Pengunjung

Posts Tagged ‘Taman Jepang Part 2’

Prinsip dasar
jembatanDalam taman Jepang tidak dikenal garis-garis lurus atau simetris. Taman Jepang sengaja dirancang asimetris agar tidak ada satu pun elemen yang menjadi dominan. Bila ada titik fokus, maka titik fokus digeser agar tidak tepat berada di tengah.

Secara garis besar, taman Jepang mengenal dua ekstremitas: sakral dan profan. Di halaman bangunan sakral seperti kuil Shinto, kuil Buddha, dan istana kaisar hanya disebar pasir dan kerikil. Salah satu contohnya adalah halaman Kuil Ise. Sebaliknya, taman yang dilengkapi kolam besar dan ditanami pepohonan, perdu, serta tanaman bunga dibangun di halaman bangunan yang dimaksudkan sebagai tempat memuaskan estetika keduniawian, misalnya rumah peristirahatan dan kediaman resmi. Taman seperti ini diperindah dengan dekorasi seperti batu-batuan, lentera batu, dan gazebo. Berada di tengah-tengahnya antara sakral dan profan adalah taman yang menggabungkan nilai-nilai sakral dan estetika profan, misalnya Vila Kekaisaran Katsura di Kyoto.

Taman Jepang berukuran besar dilengkapi dengan bangunan kecil seperti rumah teh, gazebo, dan bangunan pemujaan (kuil). Di antara gedung dan taman kadang-kadang dibangun ruang transisi berupa beranda sebagai tempat orang duduk-duduk. Dari beranda, pengunjung dapat menikmati keindahan taman dari kejauhan.

Tidak semua taman Jepang dirancang untuk dimasuki atau diinjak orang. Sejumlah taman dimaksudkan untuk dipandang dari kejauhan seperti dari dalam gedung atau beranda. Di taman yang dibangun untuk dipandang dari jauh, orang dapat melihat secara sekaligus semua elemen yang ada di dalam taman.

Taman Jepang mengenal permainan perspektif sebagai salah satu teknik untuk membuat taman terlihat lebih besar dari luas sebenarnya. Teknik pertama dari beberapa teknik yang biasa digunakan adalah penciptaan ilusi jarak. Taman akan terlihat lebih luas bila di latar depan diletakkan batu-batuan dan pepohonan yang lebih besar daripada batu-batuan dan pepohonan di latar belakang. Dalam teknik kedua berupa “tersembunyi dari penglihatan” (miegakure), tidak semua pemandangan di dalam taman dapat dilihat sekaligus. Tanaman, pagar, dan bangunan digunakan untuk menghalangi pandangan isi taman seperti air terjun, lentera batu, dan gazebo. Orang harus berjalan masuk sebelum dapat melihat isi taman. Dalam teknik ketiga yang disebut landscape pinjaman (shakkei), pemandangan taman meminjam pemandangan alam di latar belakang seperti pegunungan, sungai, atau hutan yang berada di kejauhan. Bangunan seperti istana di luar taman juga dapat dijadikan bagian integral dari taman.

Tema
Walaupun elemen-elemen dasar dan prinsip yang mendasari desain taman dapat berbeda-beda, tema-tema tertentu dapat dijumpai di berbagai jenis taman, misalnya pulau kecil (disebut H?raijima atau Pulau H?rai) yang dibangun di tengah-tengah kolam. Di atas pulau kecil tersebut kadang-kadang diletakkan diletakkan sebuah batu besar yang melambangkan Sumeru dalam kosmologi Buddha atau Gunung H?rai dalam Taoisme. Sebagai lambang utopia atau “tanah kebahagiaan”, pulau kecil di taman tidak untuk dimasuki orang. Antara pulau dan bagian taman yang lain sengaja tidak dibangun jembatan.

Tema-tema lain yang umum adalah kombinasi dari elemen-elemen dasar seperti batu-batu, pulau kecil, dan pepohonan untuk melambangkankura-kura dan burung jenjang yang keduanya merupakan lambang umur panjang di Jepang. Pulau kecil di tengah kolam dibangun seperti bentuk kura-kura atau diletakkan batu yang melambangkan kura-kura di tepian. Tema lain yang populer adalah Gunung Fuji atau miniatur landscape-landscape terkenal di Jepang.

Elemen dasar
Air

taman airElemen dasar dalam taman Jepang adalah air, batu, dan tanaman. Selain sebagai sumber kehidupan, air digunakan untuk menyucikan benda dari dunia profan sebelum memasuki kawasan sakral. Air dialirkan dari sungai untuk membuat kolam dan air terjun.

Tanaman
Bertolak belakang dari batu yang melambangkan keabadian, pohon, perdu, bambu, rumpun bambu, lumut, dan rumput adalah benda hidup yang tumbuh seiring dengan musim sebelum menjadi tua dan mati. Bertolak belakang dengan taman gaya Eropa yang berfokus pada warna-warni semak dan bunga, taman di kuil Zen hanya berupa hamparan pasir. Taman rumah teh hanya menggunakan tanaman berdaun hijau dan pohon maple yang daunnya menjadi merah di musim gugur.

Perbedaan antara lereng gunung, padang rumput, dan lembah dinyatakan dalam pemakaian berbagai macam spesies pohon dan perdu yang dipotong dan dipangkas hingga menyerupai berbagai bentuk. Pohon dan perdu juga dipakai sebagai penghubung antardua lokasi pemandangan di dalam taman. Bukit-bukit buatan dibangun dari gundukan tanah.

Batu

batu tamanBatu-batu disusun untuk menyerupai bentuk-bentuk alam seperti pegunungan, air terjun, dan pemandangan laut, dan dipilih berdasarkan bentuk, ukuran, warna, dan tekstur. Batu adalah elemen terpenting dalam taman karena dapat dipakai untuk melambangkan pegunungan, garis pantai, dan air terjun. Di taman yang memiliki pulau kura-kura dan pulau burung jenjang di tengah kolam, batu-batu diletakkan untuk memberi kesan adanya kepala dan ekor.

Batu-batu berukuran sedang digunakan sebagai batu pijakan (tobiishi, arti harfiah batu loncatan) yang dipasang bersela-sela di jalan setapak. Batu-batu yang menutup jalan setapak disebut batu ubin (shikiishi). Ketika berjalan di atasnya saat hari hujan, pakaian dan alas kaki akan terhindar dari percikan air, tanah, dan lumpur.

Di taman batu Jepang, hamparan pasir dan kerikil diratakan dengan penggaruk menjadi pola-pola yang melambangkan benda yang mengalir seperti awan dan arus air. Butiran pasir dan kerikil yang dipakai tidak berukuran terlalu halus karena mudah diterbangkan angin atau dihanyutkan oleh air hujan. Sebaliknya, butiran pasir dan kerikil yang berukuran terlalu besar akan sulit ditata dengan penggaruk. Pemilihan pasir dan kerikil juga mempertimbangkan warna. Pasir berwarna putih memberi kesan murni dan cemerlang di bawah sinar matahari, sedangkan pasir berwarna gelap mengesankan keheningan.

Batu untuk taman berasal dari pegunungan, pinggir laut, atau pinggir sungai, dan digolongkan menjadi tiga jenis: batuan sedimen, batuan beku, dan batuan malihan. Batuan sedimen biasanya memiliki permukaan yang halus dan bulat karena terkikis air. Batuan seperti ini dipasang di pinggir kolam dan sebagai batu pijakan di jalan setapak. Batuan beku berasal dari gunung berapi dan biasanya memiliki bentuk dan tekstur yang kasar. Batu seperti ini dipakai sebagai batu pijakan atau sebagai elemen yang menonjol, misalnya diletakkan untuk melambangkan puncak gunung. Batuan malihan adalah batu keras yang biasanya dipasang di sekeliling air terjun atau aliran air. Batu potong dari batuan sedimen juga populer untuk membangun jembatan, wadah batu berisi air, dan lentera batu.

Pagar

pagar tamanPagar bambu di Vila Kekaisaran Katsura.
Di taman rumah teh dan taman Jepang model kolam di tengah (shisen kaiy?), pagar dan bangunan gerbang merupakan elemen penting dalam landscape. Pagar secara garis besar terdiri dari pagar hidup (ikigaki) dari tanaman perdu yang dipangkas dan pagar buatan dari kayu ataubambu.

Pagar hidup berfungsi sebagai pembatas, penghalang pandangan, pelindung dari angin, api, dan debu, serta penghambat suara. Pagar bambu tembus cahaya (sukashigaki) disusun dari batang-batang bambu yang lebar-lebar jaraknya hingga pemandangan di balik pagar masih terlihat. Sebaliknya, pagar pembatas (shaheigaki) dibangun dari susunan bambu yang rapat dan membatasi pemandangan di baliknya.

Di dalam taman tidak digunakan dinding dari tanah yang dikeraskan, kayu, atau batu. Dinding hanya dipakai sebagai dinding luar pembatas taman.

Lentera

lentera tamanLentera batu di Kenroku-en.
Lentera (t?r?) berasal dari tradisi Cina untuk menyumbangkan lentera ke kuil Buddha. Sejakzaman Heian, lentera juga disumbangkan ke kuil Shinto untuk penerangan di malam hari dan sebagai hiasan. Lentera batu mulai dijadikan dekorasi standar di taman rumah teh sejak zaman Muromachi.[4] Setelah menjadi mode di taman-taman rumah teh, lentera batu akhirnya dipasang di berbagai taman Jepang karena keindahan dan kegunaannya.

Wadah air

wadah air tamanWadah air (tsukubai) di T?fuku-ji.
Wadah batu berisi air (tsukubai) adalah perlengkapan standar taman rumah teh. Air dari tsukubaidipakai untuk mencuci tangan tamu sebelum mengikuti upacara minum teh. Tradisi menyediakan wadah batu berisi air di taman rumah teh berasal dari tradisi menyediakan wadah batu berisi air dalam agama Buddha dan Shinto. Sebelum berdoa di kuil, orang berkumur dan membersihkan diri dengan air dari wadah batu yang disebut ch?zubachi. Wadah batu yang diletakkan di tanah disebut tsukubai ch?zubachi (disingkat tsukubai) karena orang yang mengambil air harus berjongkok (tsukubau).[5]Setelah banyak dipasang di taman-taman, tsukubai akhirnya dijadikan perlengkapan standar di taman-taman rumah teh.

Selain tsukubai terdapat dua bentuk lain wadah air dari batu. Wadah batu yang memungkinkan orang mengambil air sambil berdiri disebut tachi ch?zubachi (ch?zubachi berdiri). Wadah air yang diletakkan berdekatan dengan beranda bangunan disebut ensaki ch?zubachi (ch?zubachiberanda).

Jembatan

jembatan tamanJembatan di Taman Ritsurin, Takamatsu.
Dalam desain taman dengan air sebagai subjek utama, jembatan adalah elemen dasar yang menambah harmoni dalam landscape. Jembatan juga berfungsi sebagai penghubung bagian-bagian taman yang dipisahkan oleh air. Di taman batu Jepang, jembatan batu dibangun untuk memberi kesan bahwa di bawah jembatan ada “air” yang mengalir.

Di taman gaya J?do, jembatan melambangkan jembatan Sungai Sanzu yang harus diseberangi arwah orang yang meninggal untuk sampai ke akhirat. Selain itu, jembatan berfungsi sebagai pemisah, seperti halnya fungsi gerbang tengah (ch?mon) di taman teh yang memisahkan taman dalam (kawasan sakral) dan taman luar (kawasan profan).

Source: kaskus, wikipedia

Incoming search terms:, taman jepang minimalis, pagar bambu minimalis, pagar bambu unik, pagar bambu, pemandangan buatan, batu untuk taman, pemandangan jepang, taman buatan, pagar taman, pemandangan alam jepang

taman_jepang taman_jepang2

Taman Jepang adalah taman yang dibangun dengan gaya tradisional Jepang. Prinsip dasar taman Jepang adalah miniaturisasi dari landscap atau pemandangan alam empat musim di Jepang. Elemen dasar seperti batu-batu dan kolam dipakai untuk melambangkan landscap alam berukuran besar.

Miniatur taman ukuran kecil bergaya Jepang di halaman rumah milik rakyat biasa disebut tsuboniwa (taman halaman kecil) atau nakaniwa (halaman dalam).

Model dan gaya

taman_jepang3Taman shinden-zukuri (shinden-zukuri teien)
Taman gaya shinden-zukuri berasal dari Dinasti Tang, dan diperkenalkan di Jepang pada zaman Heian. Taman dibangun di halaman tengah rumah kediaman bangsawan yang dibangun dengan gaya arsitektur shinden-zukuri. Taman yang mewakili gaya shindenzukuri adalah Shinsen-en dan taman di Daikaku-ji di Kyoto.

Source:google.com/taman-shindenzukuri
Taman gaya j?do (j?doshiki teien)
Situasi sosial yang tidak stabil pada zaman Heian menyebabkan meluasnya pemikiran Buddhisme J?do yang membuat orang Jepang mendambakan hidup di gokuraku. Ciri khas taman ini adalah kolam yang ditanami seroja. Tata letak taman dibuat menyerupai bentuk mandala dalam ajaran J?doky?. Taman yang mewakili gaya ini di antaranya taman di By?d?-in, J?ruri-ji, dan M?ts?-ji.

Taman batu Jepang (karesansui)
Di taman batu Jepang, batu dipakai untuk menggambarkan air terjun, dan pasir berwarna putih dihamparkan untuk menggambarkan air mengalir. Air sama sekali tidak digunakan sebagai elemen taman. Taman batu Jepang hanya dimaksudkan untuk dilihat dari satu sudut pandang. Taman jenis ini berkembang pada zaman Kamakura, zaman Muromachi, hingga zaman Sengoku. Daitoku-ji dan Ry?an-ji di Kyoto adalah dua taman batu yang terkenal.

taman_jepang4

Source:architecturehomedesigns.com
Taman gaya shoin (shoinshiki teien)
Taman gaya ini berkembang pada zaman Azuchi-Momoyama, dan merupakan gaya taman Jepang yang paling umum. Taman dibangun menghadap atau mengelilingi shoin (bangunan atau ruangan besar tempat menerima tamu). Ciri khas berupa batu-batu ukuran besar untuk menggambarkan pemandangan gunung di pedalaman.

Taman teh (chaniwa atau roji)
Taman teh adalah sebutan untuk taman kecil yang dilengkapi jalan-jalan setapak yang dibangun di sekeliling rumah teh. Taman gaya ini berasal dari zaman Azuchi-Momoyama. Batu pijakan (tobiishi) adalah elemen penting yang disusun di jalan setapak yang mengelilingi rumah teh. Susunan batu pijakan dimaksudkan untuk mengatur kecepatan langkah orang yang menuju ke rumah teh. Penempatan tanaman dan batu ditentukan oleh masing-masing aliran upacara minum teh. Taman model ini dilengkapi dengan wadah batu berisi air (tsukubai) dan lentera batu.

Taman gaya kaiy? (kaiy?shiki teien atau shisen kaiy?)
Desain taman gaya kaiy? merupakan perpaduan dari taman gaya shoin dan taman teh. Taman gaya ini berkembang pada zaman Edo. Ciri khas taman adalah ukuran taman yang besar dan dilengkapi kolam dan batu-batu. Di dalam taman dibangun taman-taman teh berukuran kecil yang tersebar di beberapa tempat dan dibangun jembatan-jembatan untuk menghubungkannya. Taman yang mewakili gaya ini adalah taman Vila Kekaisaran Katsura di Kyoto, K?raku-en di Okayama, Kairaku-en di Mito, Prefektur Ibaraki, Kenroku-en diKanazawa, Prefektur Ishikawa, dan Suizen-ji J?ju-en di Prefektur Kumamoto. Kobori Ensh? adalah arsitek landscape asal zaman Edo yang dikenal dengan desain taman gaya kaiy?.

Taman daimyo (daimy? niwa)
Taman daimyo adalah sebutan untuk taman-taman luas yang dibangun daimyo di daerah-daerah pada zaman Edo, misalnya Taman Koishikawa K?rakuen dan Rikugi-en di Tokyo. Lahan datar di kota sekeliling istana dibuat sebagai miniatur pemandangan terkenal di berbagai tempat di Cina dan Jepang. Di dalam taman jenis ini hampir selalu dibangun kolam. Keindahan taman dinikmati orang sambil berjalan di jalan-jalan setapak yang dibangun di dalam taman.

§ Taman shinden-zukuri (shinden-zukuri teien)

Taman gaya shinden-zukuri berasal dari Dinasti Tang, dan diperkenalkan di Jepang pada zaman Heian. Taman dibangun di halaman tengah rumah kediaman bangsawan yang dibangun dengan gaya arsitektur shinden-zukuri. Taman yang mewakili gaya shindenzukuri adalah Shinsen-en dan taman di Daikaku-ji di Kyoto.

http://1.bp.blogspot.com/_NiQ98sSxQlc/S104HpnXFaI/AAAAAAAAAAc/unQKI7mKaWE/s320/normal_golden_pavilion_IMG_2260.jpg

Source:google.com/taman-shindenzukuri

§ Taman gaya j?do (j?doshiki teien)

Situasi sosial yang tidak stabil pada zaman Heian menyebabkan meluasnya pemikiran Buddhisme J?do yang membuat orang Jepang mendambakan hidup di gokuraku. Ciri khas taman ini adalah kolam yang ditanami seroja. Tata letak taman dibuat menyerupai bentuk mandala dalam ajaran J?doky?. Taman yang mewakili gaya ini di antaranya taman di By?d?-in, J?ruri-ji, dan M?ts?-ji.

§ Taman batu Jepang (karesansui)

Di taman batu Jepang, batu dipakai untuk menggambarkan air terjun, dan pasir berwarna putih dihamparkan untuk menggambarkan air mengalir. Air sama sekali tidak digunakan sebagai elemen taman. Taman batu Jepang hanya dimaksudkan untuk dilihat dari satu sudut pandang. Taman jenis ini berkembang pada zaman Kamakura, zaman Muromachi, hingga zaman Sengoku. Daitoku-ji dan Ry?an-ji di Kyoto adalah dua taman batu yang terkenal.

http://architecturehomedesigns.com/wp-content/uploads/2011/04/Build-a-Japanese-Style-Rock-Garden.jpg

Source:architecturehomedesigns.com

§ Taman gaya shoin (shoinshiki teien)

Taman gaya ini berkembang pada zaman Azuchi-Momoyama, dan merupakan gaya taman Jepang yang paling umum. Taman dibangun menghadap atau mengelilingi shoin (bangunan atau ruangan besar tempat menerima tamu). Ciri khas berupa batu-batu ukuran besar untuk menggambarkan pemandangan gunung di pedalaman.

§ Taman teh (chaniwa atau roji)

Taman teh adalah sebutan untuk taman kecil yang dilengkapi jalan-jalan setapak yang dibangun di sekeliling rumah teh. Taman gaya ini berasal dari zaman Azuchi-Momoyama. Batu pijakan (tobiishi) adalah elemen penting yang disusun di jalan setapak yang mengelilingi rumah teh. Susunan batu pijakan dimaksudkan untuk mengatur kecepatan langkah orang yang menuju ke rumah teh. Penempatan tanaman dan batu ditentukan oleh masing-masing aliran upacara minum teh. Taman model ini dilengkapi dengan wadah batu berisi air (tsukubai) dan lentera batu.

§ Taman gaya kaiy? (kaiy?shiki teien atau shisen kaiy?)

Desain taman gaya kaiy? merupakan perpaduan dari taman gaya shoin dan taman teh. Taman gaya ini berkembang pada zaman Edo. Ciri khas taman adalah ukuran taman yang besar dan dilengkapi kolam dan batu-batu. Di dalam taman dibangun taman-taman teh berukuran kecil yang tersebar di beberapa tempat dan dibangun jembatan-jembatan untuk menghubungkannya. Taman yang mewakili gaya ini adalah taman Vila Kekaisaran Katsura di Kyoto, K?raku-en di Okayama, Kairaku-en di Mito, Prefektur Ibaraki, Kenroku-en diKanazawa, Prefektur Ishikawa, dan Suizen-ji J?ju-en di Prefektur Kumamoto. Kobori Ensh? adalah arsitek landscape asal zaman Edo yang dikenal dengan desain taman gaya kaiy?.

§ Taman daimyo (daimy? niwa)

Taman daimyo adalah sebutan untuk taman-taman luas yang dibangun daimyo di daerah-daerah pada zaman Edo, misalnya Taman Koishikawa K?rakuen dan Rikugi-en di Tokyo. Lahan datar di kota sekeliling istana dibuat sebagai miniatur pemandangan terkenal di berbagai tempat di Cina dan Jepang. Di dalam taman jenis ini hampir selalu dibangun kolam. Keindahan taman dinikmati orang sambil berjalan di jalan-jalan setapak yang dibangun di dalam taman.

Incoming search terms:, taman batu, desain taman jepang, taman di jepang, harga batu pijakan taman, taman batu jepang, model taman jepang, batu pijakan taman, desain taman ala jepang, taman halaman kecil, Taman shinden-zukuri (shinden-zukuri teien)